Skip to main content

"Bin Sabin" Tanda Kepemilikan Masyarakat Madura

"Kak, jhek ngarek e dinnak, badheh bin sabinah/ mas jangan nyabit rumput disini, itu ada bin-sabin," kata Sunairiyah kepada suaminya Aspurah, pagi itu.

Sunairiyah lalu menunjuk kepada daun pohon siwalan yang ditancapkan di tanah yang banyak rumputnya di sebuah pinggir jalan di Dusun Madurasa, Desa Gagah, Kecamatan Kadur, Pamekasan.

"Mak iyeh ongghu lek, mayuh ngalle dek essak beih/ iya benar ayo kita pindah kesana saja," jawab Aspurah, sambil menunjuk lahan berumput lainnya yang tidak ada daun pohon siwalan yang ditancapkan di ladang itu.

Kedua orang yang merupakan sepasang suami istri itu, akhirnya pindah ke ladang berumput lainnya yang tidak ada tanda terpasang, yang oleh Sunairiyah disebut "Bin Sabin" itu. Keduanya lalu menyabit rumput di ladang itu, hingga rak tempat rumput yang mereka bawa penuh.

Bagi Aspurah dan istrinya Sunairiyah itu, "Bin Sabin" merupakan tanda kepemilikan seseorang.

Orang Madura, yang berpegang teguh kepada tradisi dan adat istiadat kuno sepeti Aspurah dan istrinya Sunairiyah ini, tidak akan pernah menyabit rumput yang sudah ada tandanya atau "Bin Sabin" itu.

Jika memaksa menyabit rumpuh yang sudah ada tandanya, dan tindakannya itu diketahui oleh orang lain, maka keduanya akan dikecam oleh warga di kampung itu, sebagai orang yang tidak tahu aturan. Mereka akan dicaci maki, dan dilecehkan.

Masyarakat di Desa Gagah, Kecamatan Kadur, Pamekasan itu, merupakan salah satu masyarakat yang masih berpegang teguh pada tradisi kuno tentang tanda kepemilikan.

"Bin Sabin" sebenarnya, bukan hanya berupa daun pohon siwalan, akan tetapi juga bisa berupa janur. Biasanya, Bin Sabin sebagai tanda kepemilikan pada rumput, karena bagi sebagian masyarakat Madura, rumput itu dianggap ada yang memiliki, kendatipun berada di sawah atau tegal seseorang.

Selama tidak ada "Bin Sabin" semua orang bisa menyabit rumput di lahan atau sawah siapa saja.

"Bin Sabin" juga kerap dipasang di pepohonan yang sudah dijual kepada orang lain, dalam salah satu keluarga. Misalnya pohon jati, siwalan dan pohon kepala dan sejenisnya. (*)

Popular posts from this blog

SMA I Pamekasan Raih Tiga Juara Dunia

Oleh: Abd Aziz

Pamekasan, 22/12 (ANTARA) - Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri I Pamekasan, Madura, Jawa Timur, mampu mengharumkan nama bangsa Indonesia di tingkat dunia, dengan tiga juara yang telah diraih selama ini.

Juara pertama diraih oleh siswa bernama Andy Octavian Latief dalam ajang Olimpiade Fisika Internasional ke-37 di Singapura 2006. Juara kedua oleh Mohammad Shohebul Maromi dalam lomba fisika internasionaldi Kroasia yang digelar pada 15 hingga 17 Juli 2010


Terakhir oleh Alyssa Diva Mustika dalam ajang "The Fourth International Young Mathematics" di India yang berlangsung 2-5 Desember 2010.

Fenomina Asmari Pada Proses Pilkada Pamekasan

Pesta demokrasi di kabupaten Pamekasan sebentar lagi akan digelar. Hiruk pikuk beragam kegiatan sebagai persiapan untuk memilih pemimpin setiap lima tahun sekali itu, mulai terlihat dengan banyaknya gambar, poster dan spanduk yang dipajang di sejumlah sudut kota di kota ini.

Baliho berukuran besar, terpajang di hampir semua tempat strategis. Pinggir jalan raya yang menjadi akses jalur lalu lintas ramai pengendara, seperti di Jalan Raya Panglegur, Jalan Raya Pamekasan-Sumenep, hingga jalan masuk kota di Jalan Raya Tlanakan sejak tiga bulan terakhir ini nyaris tidak sepi dari pemajangan gambar.

Memang tidak ada tulisan yang jelas bahwa gambar-gambar yang terpajang itu menunjukkan bahwa yang bersangkutan akan maju sebagai bakal calon Bupati periode 2013-2018.

Cita-Cita Ainul Yaqin Terkubur di Kampus Pelayaran

Bangkalan - Pihak keluarga siswa pada Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) Surabaya asal Bangkalan, Madura, yang meninggal dunia dengan kondisi tidak wajar di kampusnya, Minggu (30/9) menuntut keadilan.
 "Kami akan menuntut keadilan kepada BP2IP karena anak kami mati dengan kondisi tidak wajar," kata orang tua korban, Achmad Djailani, Senin.
 Anaknya, Ainul Yaqin (19) pada Minggu (30/9) malam dipulangkan oleh BPIP Surabaya dalam keadaan tewas dengan kondisi tubuh lebam, rahangnya patah, serta mulutnya mengeluarkan darah.

Kesenian Tradisional Macapat Terancam Punah

Oleh Abd Aziz

"Ingsun amamiti anebut asma Yang Sukmo. Rahman mura ing dunya kabhe, Rahim ase ing akherat. Ing sakihi kang amaca 'Laila ha Illallah Muhammadun Rasulullah".

Kidung berbahasa Jawa yang dibacakan pujangga Suwamah, warga Desa Larangan Tokol, Kecamatan Larangan, ini mengawali tembang dalam sebuah hajatan yang digelar warga setempat di desa itu.

Kakek yang sudah berusia 70 tahun ini terlihat sangat serius membacakan kata demi kata dalam sebuah kitab bertuliskan huruf Arab berbahasa Jawa halus ini.