Skip to main content

Pentingnya Persatuan Umat di Mata Yusril

Pamekasan (Antara Jatim) - Ancaman disintegrasi bangsa dan perpecahan antarsesama umat Islam, serta kelompok aliran beragama di Indonesia yang pernah terjadi di negeri ini salah satunya karena kurangnya sikap mengalah, untuk kepentingan persatuan dan keutuhan umat.

"Ancaman perpecahan umat ini, sudah pernah terjadi dan terekam dalam sejarah Islam, dan oleh karenanya tugas kita adalah memelihara agar bangsa ini bersatu, dan kompak," kata Pakar Hukum Tata Negara Prof Dr Yusril Ihza Mahendra di Pamekasan, Minggu.

Saat menyampaikan orasi politik bertema "Merajud Ukhuwah, Melawan Ketidakadilan, serta Meraih Kemenangan Menuju Indonesia Gemilang" Yusril menceritakan, apa yang pernah dilakukan dirinya dalam dunia politik pada masa awal reformasi dengan tujuan agar tetap menjaga keutuhan umat Islam, saat ia baru mendirikan Partai Bulan Bintang (PBB) dan masih menjabat sebagai ketua umum partai itu.

Di hadapan ribuan santri, ulama dan tokoh masyarakat Madura yang hadir saat itu, pria kelahiran Lalang, Manggar, Belitung Timur, 5 Februari 1956 ini menuturkan, gagasan mendirikan PBB sebenarnya untuk melanjutkan perjuangan tokoh-tokoh Islam yang dikenal idealis dalam memperjuangkan penyebaran nilai-nilai ke-Islam-an, melalui partai politik Masyumi sebelum menjadi partai terlarang di era Orde Lama.

Saat Masyumi berdiri, anggotanya hanya tiga, yakni ormas Muhammadiyah, NU (Nahdlatul Ulama), dan PUI (Partai Umat Islam). Belakangan bergabung juga ormas Islam lainnya, seperti Al-Irsyad.

Ketua pertama Masyumi adalah KH Hasyim Asy'ari. Tokoh ini sempat mengeluarkan fatwa jihad dan fatwa itu atas nama sebagai Ketua Umum Masyumi. Lalu, diganti KH Wahab Hasbullah, DR Sukiman, Muhammad Natsir dan yang adalah Prawoto Mangkusasmito.

Memang, kata Yusril, pada tahun 1952, NU sempat keluar dari Masyumi membangun partai sendiri. Tapi perjuangan mereka tetap searah, hanya berbeda partai politik, yakni menyebarkan nilai-nilai Islam melalui gerakan politik.

"Saya memahami betul sejarah itu," katanya.

Cerita Yusril tentang Masyumi ini menunjukkan bahwa, kekompakan antarsesama partai dalam satu tujuan yang sama, yakni menyebarkan nilai-nilai Islam adalah hal yang penting. Bahkan dalam kesempatan itu, mantan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM), menegaskan, bahwa persoalan perbedaan pendapan dalam pehaman Islam agar tidak terlalu dipersoalkan.

"Kakek saya seorang ulama yang sangat konservatif. Beliau sebenarnya seorang pangeran. Tapi kakek tak mau menjadi Sultan dan memilih menjadi ulama," katanya.

Huruf latin saja, menurut kakek hukumnya haram, dan listrik bid'ah. Tidak ada satu gambarpun di rumah, kesuali gambar burak dan sultan Turki. Karena itu saya terlibat dalam gerakan Islam ini.

Saya pelajari sejarah persatuan dan sejarah perpecahan diantara umat Islam, hingga akhirnya membentuk partai Partai Bulan Bintang (PBB). Yakni sebuah partai politik Indonesia yang berasaskan Islam, berdiri pada tanggal 17 Juli 1998 di Jakarta dan dideklarasikan pada hari Jumat tanggal 26 Juli 1998 di halaman Masjid Al-Azhar Kemayoran Baru, Jakarta.

PBB menjadi peserta pemilu dan telah mengikuti Pemilu pada tahun 1999, 2004 dan Pemilu tahun 2009.

Pada Pemilu 1999, PBB mampu meraih dukungan 2.050.000 suara atau sekitar 2 persen dan meraih 13 kursi DPR RI. Pada Pemilu legislatif 2004, partai ini mampu meraih dukungan 2.970.487 suara atau 2,62 persen dengan jumlah perwakilan sebanyak 11 kursi di DPR.

Pada pemilu 2009, PBB memeroleh suara sekitar 1,8 juta yang setara dengan 1,7 persen dengan system parliamentary threshold 2,5 persen sehingga berakibat hilangnya wakil PBB di DPR RI, meski di beberapa daerah pemilihan beberapa calon anggota DPR RI yang diajukan mendapatkan dukungan suara rakyat dan memenuhi persyaratan untuk ditetapkan sebagai Anggota DPR RI.

Namun PBB masih memiliki sekitar 400 Anggota DPRD baik di tingkat Propinsi maupun Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia.

Mundur Untur Persatuan
 Pada Tahun 1999 saat pemilihan presiden yang saat itu masih digelar oleh legislatif, Yusril selaku ketua umum partai itu, mencalonkan diri sebagai bakal calon presiden.

"Saya mendaftar pukul 6.30 WIB, saya tunggu hingga jam 8 belum ada yang mendaftar. Jam delapan lewat, mendaftar 2 orang lagi yakni Gusdur dan Megawati," katanya menuturkan.

Belakangan, diketahui bahwa dirinya satu-satunya bakal calon yang lengkap administrasinya. Seperti persyaratan kelakuan baik, kesehatan, tidak terlibat perkara oleh Mahkamah Agung (MA).

Amin Rais selaku ketua MPR ketika itu, akhirnya menetapkan bakal calon Presiden yang akan dipilih oleh anggota DPR RI sebanyak tiga orang, yakni Yusril Ihza Mahendra, Megawati Soekarno Putri dan KH Abdurrahman Wahid alias Gusdur.

Hasil perhitungan dukungan suara sementara pada Yusril ketika itu sebanyak 232 suara Megawati 304 suara dan Gusdur mendapatkan dukungan sebanyak 185 suara.

"Jika saya ngotot maju pada pilihan pertama, maka Gusdur kalah," terang Yusril.

Jika Gusdur kalah massa Gusdur akan jadir rebutan. Tapi demi untuk menjaga persatuan, dan kekompakan umat Islam, dirinya akhirnya mengalah dan mengundurkan diri dalam pidato singkat selama sekitar 3 menit.

"Saya mengundurkan diri demi menjaga persatuan, dan memberikan kesempatan kepada Abdurrahman Wahib untuk menjaga perstauan Umat Islam," ucap Yusril menirutan pidato yang pernah disampaikan di hadapan anggota DPR RI ketika itu.

Kebijakan mengundurkan diri Yusril dari pencalonan presiden ketika itu, memang tidak disetujui semua kalangan, termasuk partai politik yang mendukung dirinya, yakni Golkar yang saat itu dipimpin oleh BJ Habibie.

Namun, karena mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini mampu menjelaskan secara rasional dan atas pertimbangan yang keutuhan umat, maka, Habibie akhirnya menerimanya.

Dua hari setelah pemilihan presiden dan Gusdur terpilih menjadi Presiden RI kemudian, Yusril kemudian mendatangi Gusdur. Ketika itu, ia bertemu dengan rombongan Kiai Langitan, antara lain Alm KH Abdullah Faqih.

Rombongan Kiai dan beberapa warga NU itu sempat menyampaikan terima kasih, karena telah rela mundur sebagai bakal calon Presiden dengan memberikan kesempatan kepada KH Abdurrahman Wahid alias Gusdur.

"Saat itu juga saya katanya. Mulai hari ini janganlah ada lagi pebedaan diantara kita. Kalau dulu mungkin karena rebutan jabatan kursi menteri agama, tapi sekarang saya ganti dengan kursi presiden," kata Yusril disambut tepuk tangan hadirin yang datang dalam acara silaturrahim ulama se-Madura di gedung Islamic Centre, Pamekasan itu.

Ketua Umum Poros Pemuda Indonesia (PPI) Muhlis Ali menilai, tindakan yang dilakukan Yusril mengundurkan diri dari pencalonan presiden pada pemilih presiden 1999 itu, merupakan tindakan yang patut diteladani semua pihak dan merupakan pelajaran yang sangat berharga.

"Sebab menurut fakta yang terjadi saat ini ancaman perpecahan sudah terjadi dimana-mana, baik di organisasi keagamaan, sosial, maupun partai politik sekalipun," katanya menjelaskan.

Padahal, sikap mengalah untuk kepentingan persatuan dan kesatuan umat, semestinya terus dikembang, karena menurut dia, sejatinya bibit disintegrasi bangsa ini adalah kurangnya sikap mau mengalahkan untuk kepentingan yang lebih besar. (*)

(Sumber: http://www.antarajatim.com/lihat/berita/111384/pentingnya-persatuan-umat-di-mata-yusril)


Popular posts from this blog

Yang Tersisa dari Hukum Pancung TKI Zaini

AbdAziz.Info - "Semoga apa yang menimpa saya, tidak terjadi pada anak-anak Indonesia lainnya. Saya berdoa, semoga kedepannya ada kehidupan yang lebih baik pada saya. ...terima kasih Pak Presiden,....terima kasih Pemerintah Indonesia. Bangkalan, 20 Maret 2018. ... Yang sangat berduka... Mustofa Kurniawan".

Kalimat ini ungkapan hati Mustofa Kurniawan (18), anak dari Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Mochammad Zaini Misrin (53) asal Desa Kebun, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur yang dihukum pancung di Arab Saudi pada 18 Maret 2018 sekitar pukul 11.00 waktu setempat.

Sejak mendengar kabar bahwa ayahnya Zaini Misrin telah dieksekusi mati oleh pemerintah Arab Saudi atas tuduhan melakukan pembunuhan terhadap majikannya di Arab Saudi, Mustofa mengaku sangat terpukul. Keinginan untuk berkumpul kembali dengan ayahnya, hanya tinggal harapan, hingga akhirnya ia berinisiatif untuk mengirim surat kepada Presiden RI agar anak-anak TKI lainnya tidak mengalami hal ser…

Menekan Gizi Buruk-Katai dengan Program Terintegratif

AbdAziz.Info - Bayi di bawah umur lima tahun (balita) bernama Agus (3,5) yang menderita gizi buruk dari Desa Dupok, Kecamatan Kokop, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, belum lama ini, akhirnya meninggal dunia akibat kekurangan asupan gizi.

Tepat hari Selasa, 27 Februari 2017, Agus mengembuskan nafas terakhir di ICU lantai 2 di Rumah sakit Syarifah Ambami Rato Ebuh, Bangkalan. Ia meninggal dunia, setelah sempat dirawat selama dua hari di rumah sakit umum daerah milik Pemkab Bangkalan tersebut.

Hasil analisis dokter menyebutkan, penyakit yang diderita balita Agus, karena yang bersangkutan kekurangan asupan gizi alias menderita gizi buruk. Bayangkan, anak berumur 3,5 tahun tersebut hanya memiliki berat badan 9 kilogram. Padahal dengan umur 3,5 tahun seperti itu, seharusnya berat badan ideal sang balita antara 12,5 hingga 15,30 kilogram.

Kasus gizi buruk yang menimpa anak dari pasangan Naimah dan Ahmad ini merupakan satu dari ribuan anak yang menderita kasus gizi buruk di wilayah itu.

Berda…

Menuju Pilkada Pamekasan Damai Tanpa Hoax

AbdAziz.Info - Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) telah menetapkan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) bupati dan wakil bupati, serta gubernur dan wakil gubernur pada 27 Juni 2018.
Pesta demokrasi lima tahunan untuk memilih bupati dan wakil bupati, serta gubernur dan wakil gubernur itu serentak akan digelar 171 kabupaten/kota di 17 provinsi di Indonesia dengan perincian, sebanyak 115 kabupaten, dan 39 kota.
Di Jawa Timur, ada 19 pilkada serentak di 18 kabupaten dan kota serta Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018. Tiga di antaranya berada di Pulau Madura, yakni di Kabupaten Pamekasan, Sampang dan Kabupaten Bangkalan.
Masing-masing institusi penyelenggara pemilu di Pulau Madura, termasuk di Kabupaten Pamekasan, telah melakukan berbagai persiapan sejak awal 2018, agar pelaksaan pilkada bisa berlangsung aman, dan damai, serta tanpa adanya gangguan yang berarti.
Demikian halnya dengan instansi terkait, seperti aparat kepolisian dan TNI dari Kodim 0826 Pamekasan. Polr…

Guruku Sayang, Guruku Malang

Oleh Abd Aziz
Malam itu, 1 Februari 2018, tiba-tiba menyebar kabar secara berantai di berbagai media sosial, seperti facebook, twitter, dan whatshapp yang mengabarkan bahwa seorang guru seni rupa di SMA Negeri 1 Torjun, Kabupaten Sampang, Madura, meninggal dunia.

Ahmadi Budi Cahyanto, demikian nama guru yang meninggal dunia di Rumah Sakit Dr Soetomo di Surabaya, asal Dusun Paleyang, Desa Tanggumong, Kecamatan Kota Sampang. Sang guru meninggal dunia, setelah dianiaya oleh siswanya sendiri berinisial HI saat yang bersangkutan menyampaikan materi pelajaran seni menggambar di depan ruang kelas XII.

Kabar tidak baik ini, menyebar sangat cepat. Maklum, tindakan melawan guru, apalagi memukul, bagi warga Madura, merupakan tindakan sangat tercela, sangat buruk, dan bahkan ada sebagian masyarakat yang menyebut "tidak beradap".

Apalagi posisi guru dalam adat tradisi dan budaya orang Madura, menempati urutan kedua, setelah kedua orang, yakni bapak/ibu. "Bhapa', bhabu' guru,…