Skip to main content

Pesan Perdamaian dari Tragedi Sampang

Oleh Abd Aziz
SAMPANG, KOMPAS.com--Shalat Jumat warga Syiah korban penyerangan kelompok anti-Syiah di Gedung Olahraga (GOR) Wijaya Kusuma, Sampang, Madura, menyampaikan pesan perdamaian dan pentingnya kerukunan sesama umat Islam.

Pesan perdamaian itu damai disampaikan Ketua Dewan Syuro Ahlulbait Indonesia (Abi) Doktor Umar Shahab selaku khatib pada shalat Jumat (31/8).

Dalam khutbahnya, Umar menjelaskan, musibah yang menimpa kaum Syiah di Sampang adalah ujian dari Allah SWT seperti telah ditegaskan dalam Al Quran. "Allah akan menguji kamu dengan rasa takut dan rasa lapar," katanya menjelaskan.


Akan tetapi, sambung dia, jika ujian itu bisa dihadapi dengan sabar, maka Allah akan mengasihi dan menyayangi orang-orang yang terkena ujian tersebut.

Aksi kekerasan yang saudara hadapi, kata dia, adalah untuk menguji kecintaan terhadap Allah dan keluarga Rasulullah. Dan, sambung dia, orang yang masuk surga adalah orang-orang yang telah mendapatkan ujian dan bisa menghadapi ujian itu dengan sabar.

"Kita," sambung khatib keturunan Arab ini, "kelompok Islam Syiah diharapkan tidak melakukan tindakan-tindakan yang memicu tindakan yang dilarang oleh Allah SWT."

Umar Shahab dalam kesempatan itu juga sempat menyampaikan pesan seorang korban tewas dari warga Syiah dalam tragedi penyerangan yang dilakukan oleh kelompok anti-Syiah pada tanggal 26 Agustus 2012.

Almarhum, ujar dia, berpesan jangan ada dendam karena tindakan dendam melanggar ajaran agama.
Jika, kelompok Syiah menyimpan rasa dendam kepada kelompok penyerang, menurut Umar, maka akan sama saja dengan mereka yang telah menyerang umat Syiah.

Ustad Umar juga mengutuk aksi perusakan dan penganiayaan terhadap kelompok minoritas ini.
Pelaku kekerasan yang menyebabkan sebanyak 37 rumah rusak, 1 orang tewas dan 6 orang lainnya luka-luka itu juga orang Islam. Akan tetapi mereka telah dirasuki hawa nafsu sehingga melupakan larangan Allah dan Rasulnya.

Tetap Saudara
Meski mengutuk aksi penyerangan yang telah menyebabkan pengikut Syiah tewas dan luka-luka, serta tempat tinggalnya dibakar massa, Umar tetap meminta agar para korban bersabar dan tetap mengulurkan tangan perdamaikan kepada mereka. "Mereka tetap saudara-saudara kita," katanya.

Di samping itu, siapapun yang mengucapkan kalimat syahadat adalah tetap saudara, termasuk mereka yang telah melakukan aksi penyerangan kepala kelompok minoritas Islam Syiah di Sampang.

"Orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat haram untuk diganggu dan itu kata Rasulullah dan hadis yang diakui oleh golongan manapun dan ulama manapun," katanya menegaskan.

Ia mengimbau kaum Syiah tetap mengulurkan tangan persaudaraan, dan perdamaian kepada mereka. "Kita tidak ingin membuka peperangan dengan mereka karena mereka adalah saudara-saudara kita," katanya.
Mereka, kata Umar, salah paham tentang pengikut Ahlulbait (Syiah). Padahal, Syiah adalah Muslim yang percaya kepada 114 surat yang diawali dengan surat Al-Fatihah dan surat An-Nas.

Jika ada anggapan bahwa Syiah memiliki Quran sendiri itu jelas salah. "Kita juga tahlilan, mauludan, kita juga melakukan haul," katanya.

Ustad Tajul (pimpinan Islam Syiah Sampang), kata dia, juga tidak pernah mengajari hal yang menyesatkan. "Apakah selama ini saudara-saudara diajarkan Al Quran lain oleh Ustad Tajul?" tanyanya. "Tidak," jawab jamaah shalat itu dengan kompak.
Ia menilai, ada oknum ketiga di balik kasus tragedi Syiah di Sampang, Madura, Jawa Timur itu. Sehingga, karena informasi pihak ketiga maka Syiah dipersepsi berbeda dan dianggap sebagai ajaran  sesat.
Sebaiknya jika ada kesan bahwa Syiah menyimpang, maka sebaiknya diklarifikasi kepada pihak-pihak yang bersangkutan. "Fatabayyanu," katanya, mengutip Allah di dalam Al Quran.

Alangkah lebih baiknya, jika ada informasi yang tidak benar diklarifikasi lebih dahulu secara langsung kepala pihak-pihak yang bersangkutan secara langsung, bukan kepada pihak ketiga.

Ia yakin, akibat adanya informasi dan klarifikasi yang tidak benar dari pihak ketiga--bukan melakukan klarifikasi langsung kepada pihak yang berkompeten--masyarakat yang tidak tahu apa-apa akhirnya menjadi korban.

"Saya ingin menyampaikan pesan kepada mereka, melalui khutbah ini bahwa semua tudingan bahwa Syiah memiliki Al Quran lain, sama sekali tidak benar," katanya.

Ketua Dewan Syuro Abi ini menjelaskan, Syiah yakin pada Rukun Islam, Rukun Iman, Qodha dan Qodhor, puasa dan berbagai jenis ibadah lainnya seperti yang dipercaya semua umat dan kelompok Islam lain di dunia ini. "Bahwa ada perbedaan kecil, itu memang. Dan itu saya kira juga ada pada semua golongan Islam," katanya.

Di akhir khutbahnya, ia berpesan agar warga Syiah korban kekerasan kelompok anti-Syiah agar tetap bersabar dalam menghadapi penindasan dengan senantiasa mendoakan agar para penyerang itu diberi kesadaran.

Sebab, menurut Umar, mereka tetap orang-orang Islam dan setiap saat sesama orang Islam diharuskan untuk selalu saling mendoakan.

Kasus penyerangan kelompok Islam Syiah di Dusun Nanggernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Sampang, Madura, merupakan yang kedua kali dalam dua tahun terakhir ini.

Aksi serupa juga terjadi pada 29-30 Desember 2011. Ketika itu rumah pimpinan Islam Syiah, mushalla dan madrasah kelompok Islam minoritas ini diserang oleh  massa anti-Syiah.

Kasus penyerangan yang dilakukan oleh kelompok massa tak dikenal terhadap kelompok Islam Syiah di Desa Karang Gayam, Sampang, Madura, Minggu (26/8) itu menyebabkan 1 orang tewas dan 6 orang lainnya luka-luka.

Kerusuhan berawal saat 20 anak dari pemukiman Syiah di Desa Karang Gayam, Madura, yang bersekolah di Bangil, Pasuruan, hendak kembali ke pesantren mereka di Pasuruan seusai merayakan Idul Fitri di tempat tinggal mereka.

Murid-murid itu dihadang oleh kelompok massa yang menggunakan 30 sepeda motor. Siswa pesantren Syiah yang sudah naik angkutan umum disuruh turun, sedangkan yang mengendarai kendaraan dipaksa pulang ke rumah mereka masing-masing.

Kelompok Syiah yang kemudian melawan aksi itu justru membuat massa makin beringas sehingga bentrokan tidak terhindarkan.

Sementara, hingga kini polisi telah memeriksa 20 orang yang diduga terlibat dalam kasus kekerasan tersebut, dan satu diantaranya bernama Roisul Hukama telah ditetapkan sebagai tersangka. 



Popular posts from this blog

Yang Tersisa dari Hukum Pancung TKI Zaini

AbdAziz.Info - "Semoga apa yang menimpa saya, tidak terjadi pada anak-anak Indonesia lainnya. Saya berdoa, semoga kedepannya ada kehidupan yang lebih baik pada saya. ...terima kasih Pak Presiden,....terima kasih Pemerintah Indonesia. Bangkalan, 20 Maret 2018. ... Yang sangat berduka... Mustofa Kurniawan".

Kalimat ini ungkapan hati Mustofa Kurniawan (18), anak dari Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Mochammad Zaini Misrin (53) asal Desa Kebun, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur yang dihukum pancung di Arab Saudi pada 18 Maret 2018 sekitar pukul 11.00 waktu setempat.

Sejak mendengar kabar bahwa ayahnya Zaini Misrin telah dieksekusi mati oleh pemerintah Arab Saudi atas tuduhan melakukan pembunuhan terhadap majikannya di Arab Saudi, Mustofa mengaku sangat terpukul. Keinginan untuk berkumpul kembali dengan ayahnya, hanya tinggal harapan, hingga akhirnya ia berinisiatif untuk mengirim surat kepada Presiden RI agar anak-anak TKI lainnya tidak mengalami hal ser…

Menekan Gizi Buruk-Katai dengan Program Terintegratif

AbdAziz.Info - Bayi di bawah umur lima tahun (balita) bernama Agus (3,5) yang menderita gizi buruk dari Desa Dupok, Kecamatan Kokop, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, belum lama ini, akhirnya meninggal dunia akibat kekurangan asupan gizi.

Tepat hari Selasa, 27 Februari 2017, Agus mengembuskan nafas terakhir di ICU lantai 2 di Rumah sakit Syarifah Ambami Rato Ebuh, Bangkalan. Ia meninggal dunia, setelah sempat dirawat selama dua hari di rumah sakit umum daerah milik Pemkab Bangkalan tersebut.

Hasil analisis dokter menyebutkan, penyakit yang diderita balita Agus, karena yang bersangkutan kekurangan asupan gizi alias menderita gizi buruk. Bayangkan, anak berumur 3,5 tahun tersebut hanya memiliki berat badan 9 kilogram. Padahal dengan umur 3,5 tahun seperti itu, seharusnya berat badan ideal sang balita antara 12,5 hingga 15,30 kilogram.

Kasus gizi buruk yang menimpa anak dari pasangan Naimah dan Ahmad ini merupakan satu dari ribuan anak yang menderita kasus gizi buruk di wilayah itu.

Berda…

Menuju Pilkada Pamekasan Damai Tanpa Hoax

AbdAziz.Info - Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) telah menetapkan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) bupati dan wakil bupati, serta gubernur dan wakil gubernur pada 27 Juni 2018.
Pesta demokrasi lima tahunan untuk memilih bupati dan wakil bupati, serta gubernur dan wakil gubernur itu serentak akan digelar 171 kabupaten/kota di 17 provinsi di Indonesia dengan perincian, sebanyak 115 kabupaten, dan 39 kota.
Di Jawa Timur, ada 19 pilkada serentak di 18 kabupaten dan kota serta Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018. Tiga di antaranya berada di Pulau Madura, yakni di Kabupaten Pamekasan, Sampang dan Kabupaten Bangkalan.
Masing-masing institusi penyelenggara pemilu di Pulau Madura, termasuk di Kabupaten Pamekasan, telah melakukan berbagai persiapan sejak awal 2018, agar pelaksaan pilkada bisa berlangsung aman, dan damai, serta tanpa adanya gangguan yang berarti.
Demikian halnya dengan instansi terkait, seperti aparat kepolisian dan TNI dari Kodim 0826 Pamekasan. Polr…

Guruku Sayang, Guruku Malang

Oleh Abd Aziz
Malam itu, 1 Februari 2018, tiba-tiba menyebar kabar secara berantai di berbagai media sosial, seperti facebook, twitter, dan whatshapp yang mengabarkan bahwa seorang guru seni rupa di SMA Negeri 1 Torjun, Kabupaten Sampang, Madura, meninggal dunia.

Ahmadi Budi Cahyanto, demikian nama guru yang meninggal dunia di Rumah Sakit Dr Soetomo di Surabaya, asal Dusun Paleyang, Desa Tanggumong, Kecamatan Kota Sampang. Sang guru meninggal dunia, setelah dianiaya oleh siswanya sendiri berinisial HI saat yang bersangkutan menyampaikan materi pelajaran seni menggambar di depan ruang kelas XII.

Kabar tidak baik ini, menyebar sangat cepat. Maklum, tindakan melawan guru, apalagi memukul, bagi warga Madura, merupakan tindakan sangat tercela, sangat buruk, dan bahkan ada sebagian masyarakat yang menyebut "tidak beradap".

Apalagi posisi guru dalam adat tradisi dan budaya orang Madura, menempati urutan kedua, setelah kedua orang, yakni bapak/ibu. "Bhapa', bhabu' guru,…