Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2012

Antara Syiah, Ahmad Wahib, dan Tafsir Fanatisme

"Aku belum tahu apakah Islam itu sebenarnya. Aku baru tahu Islam menurut Hambka, Islam menurut Natsir, Islam menurut Abduh, Islam menurut ulama-ulama kuno, Islam menurut Djohan, Islam menurut Subki, Islam menurut yang lain-lain".

Dan terus terang aku tidak puas. Yang kucari belum ketemu, belum terdapat, yaitu Islam menurut Allah, pembuatnya. Bagaimana? Langsung studi Al Quran dan Sunnah? Akan kucoba. Tapi orang-orang lainpun akan beranggapan bahwa Islam yang kudapat itu adalah Islam menurut aku sendiri. Tapi biar, yang penting dalam akal sehatku bahwa yang kufahami itu adalah Islam menurut Allah".

Catatan harian almarhum Ahmad Wahib, seorang wartawan Majalah Tempo asal Sampang dalam buku "Pergolakan Pemikiran Islam" memang tidak ada kaitannya dengan tragedi yang menimpa kelompok Islam Syiah pada tanggal 26 Agustus 2012. Tapi catatan yang ditulis oleh orang Sampang sendiri ini seorang telah menggiring kita untuk mengingat tragedi Sampang pada tanggal 26 Agustus 2…

Pesan Perdamaian dari Tragedi Sampang

Oleh Abd Aziz SAMPANG, KOMPAS.com--Shalat Jumat warga Syiah korban penyerangan kelompok anti-Syiah di Gedung Olahraga (GOR) Wijaya Kusuma, Sampang, Madura, menyampaikan pesan perdamaian dan pentingnya kerukunan sesama umat Islam.
Pesan perdamaian itu damai disampaikan Ketua Dewan Syuro Ahlulbait Indonesia (Abi) Doktor Umar Shahab selaku khatib pada shalat Jumat (31/8).
Dalam khutbahnya, Umar menjelaskan, musibah yang menimpa kaum Syiah di Sampang adalah ujian dari Allah SWT seperti telah ditegaskan dalam Al Quran. "Allah akan menguji kamu dengan rasa takut dan rasa lapar," katanya menjelaskan.

Menyemai Benih Perdamaian dari Tragedi Sampang (3)

Pascakonflik berdarah itu, berbagai pihak di lingkungan Pemkab Sampang, terus melakukan berbagai upaya pendekatan untuk meredam gejolak massa. Salah satunya seperti yang dilakukan Badan Kesatuan Bangsa (Bakesbang).

Lembaga ini terus berupaya melakukan pendekatan terhadap para ulama dan tokoh masyarakat setempat guna menyelesaikan konflik horizontal di wilayah itu.

"Sampai saat ini, kami terus berupaya melakukan pendekatan agar para ulama di Sampang ini bisa membantu ikut meredam konflik di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben dan Desa Bluuran, Kecamatan Karangpenang," kata Kepala Bakesbang Sampang Rudi Setiadi.

Menyemai Benih Perdamaian dari Tragedi Sampang (2)

Tragedi kemanusiaan Sampang pada 26 Agustus 2012 itu bermula ketika beberapa orangtua pengikut ajaran Syiah hendak mengantar sekitar 20 anak Syiah menuntut ilmu di Yayasan Pondok Pesantren Islam (YAPI), Bangil, Pasuruan. 

Pada sekitar pukul 10.00 WIB, sebelum keluar dari gerbang Desa Karang Gayam, rombongan pengantar dihadang oleh sekitar 30 orang bersepeda motor. Massa melengkapi dirinya dengan celurit, parang, serta benda tajam lainnya.

Anak-anak Syiah yang sudah naik angkutan umum disuruh turun, sedangkan yang mengendarai kendaraan dipaksa pulang ke rumah mereka masing-masing. Sebagaian warga Syiah yang berupaya melawan aksi itu justru membuat massa makin beringas sehingga bentrokan tidak terhindarkan.

Menyemai Benih Perdamaian dari Tragedi Sampang (1)

Tragedi kemanusiaan kembali terjadi di Sampang, Madura, Jawa Timur, 26 Agustus 2012. Satu orang tewas dan enam orang lainnya luka-luka serta sebanyak 47 rumah pengikut aliran Islam Syiah ludes dibakar massa penyerang.

Tidak hanya itu, sedikitnya 282 warga Syiah di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, dan Desa Bluuran, Kecamatan Karangpenang, harus dievakuasi. Kini, mereka terpaksa hidup di pengungsian di gedung olahraga (GOR) Wijaya Kusuma, Sampang.

"Pemicu konflik berdarah itu bukan karena perbedaan paham, antara kelompok Islam Sunni dengan Syiah, tetapi karena persoalan pribadi antara pimpinan Syiah Tajul Muluk dengan saudaranya Roisul Hukama yang beraliran Sunni," ucap Bupati Sampang, Noer Tjahja.

Elegi Anak-anak Korban Kemanusiaan Sampang

"Aku takut, karena orang-orang itu menyerang orang-orang Syiah lagi". Begitulah redaksional tulisan tangan Mustofa, pada sebuah kertas berwarna merah berukuran kecil yang digantung pada sebuah ranting kering di pojok ruang penampungan pengungsi korban tragedi kemanusian Sampang.

Mustofa adalah satu dari puluhan anak-anak Syiah yang kini hidup di tempat pengungsian di gedung olahraga (GOR) Wijaya Kusuma, Sampang, setelah rumahnya hangus dibakar massa kelompok penyerang anti-Syiah pada 26 Agustus 2012.

Tulisan Mustofa ini tak lain merupakan ungkapan perasaan atas apa yang ia alami dalam peristiwa penyerangan yang dilakukan sekelompok massa anti-Syiah yang telah menyebabkan rumahnya hangus dibakar kelompok massa penyerang dan membuat orang tuanya tewas.