Skip to main content

Geliat Bisnis Warung Kopi di Tulungagung

Tulungagung - Masyarakat Tulungagung dikenal sebagai kelompok masyarakat yang memiliki kebiasaan minum kopi. Tradisi ngopi pada kalangan masyarakat yang dikenal dengan sebutan Kota Marmer ini tidak hanya di perdesaan, tapi juga di perkotaan.

Hampir tak ada kecamatan maupun desa di wilayah kabupaten yang memiliki luas 1.055, 65 kilometer2 dengan jumlah pendudukan sekitar 1.024.034 ini yang tidak ada warung kopinya.

"Minum kopi sambil nongkrong dipinggir jalan, sudah menjadi tradisi masyarakat Tulungagung," kata salah seorang penikmat kopi, Anang Agus Faizal.

Warga asal Blitar yang berumah tangga di Tulungagung ini menuturkan, tradisi minum kopi masyarakat Tulungagung menunjukkan bahwa kondisi sosial masyarakat di wilayah secara psikologis memang lebih terbuka, dinamis dan lebih plural.

Setiap malam di sepanjang jalan protokol di dalam kota, seperti di Jalan Pahlawan, Jalan Kepatihan, serta di sekitar alun-alun kota memang dipadati oleh kerumunan warga yang datang hanya untuk menikmati segelas kopi hanya.

Para penikmat kopi ini, tidak hanya pada kelompok usia tua sebagaimana layaknya di Madura, akan tetapi juga pada semua lapisan. Baik remaja, maupun pemuda, termasuk kaum perempuan.

Minum kopi sambil nongkrong dipinggir jalan dengan menggelar tikar, duduk secara lesehan bagi masyarakat Kota Marmer ini seolah menjadi kebutuhan, untuk menghilangkan kejenuhan, setelah seharian mereka sibuk dengan rutinitas kerja.

"Ada nilai rekreatifnya juga. Kita kan bisa berkumpul sambil 'sharring' informasi dengan teman dan orang lain di tempat itu," tutur warga lain di Kota Tulungagung, Suyitno Arman.

Suyitno yang juga Ketua KPU Kabupaten Tulungagung ini menyatakan, ngopi memang menjadi tradisi masyarakat di wilayah itu yang sudah berlangsung sejak dulu.

"Makanya ketika sampean datang ke kantor KPU ini, kami wajib menyediakan kopi, karena inilah ciri khas Tulungagung," kata dia sembari berkelakar.

Geliat bisnis
Tradisi ngopi pada masyarakat Tulungagung inilah yang menyebabkan bisnis usaha minuman kopi merambah dengan pesat dengan beragam jenis sajian.

Bahkan, nongkrong sambil minum, juga menjadi kegemaran pada remaja dan pemuda Tulungagung, seolah menjadi tempat tongkrongan alternatif dengan biaya murah dan sangat meriah.

Sebut saja seperti yang diakui Andre, salah seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Kota Tulungagung.

"Kalau saya biasa 'onlin'e mengakses internet di tempat-tempat ngopi seperti ini," ujarnya.

Andre hanyalah sebagian pemuda di kota ini yang biasa ngopi sambil "online" dengan membawa "laptop" (komputer jinjing) di tempat-tempat ngopi di keramaian Kota Marmer ini.

Pemuda yang juga penggemar fotografi ini mengaku, menikmati secangkir kopi sambil online mengakses berbagai informasi seolah membawa suasana batin tersendiri.

Kegemaran minum kopi pada masyarakat Tulungagung menyebabkan geliat usaha bisnis jenis miruman rakyat ini meningkat tajam.

Berdasarkan data yang dirilis Paguyuban Warung dan Hiburan se-Tulungagung (Pawahita) belum lama ini menyebutkan, hingga tahun 2010 saja, jumlah kedai dan warung kopi yang tersebar di 19 kecamatan mencapai 7.000 unit lebih.

Hampir di setiap desa di Tulungagung memiliki warung kopi. Bahkan di beberapa desa tersedia dua hingga tiga, bahkan ada yang mencapai empat warung kopi.

Sisi lain
Pesatnya persaingan usaha warung kopi di Tulungagung membuat sejumlah pengusaha minuman kopi melakukan bisnis dengan nuansa berbeda. Salah satunya seperti di salah satu warung kopi Desa Gandingan, Kecamatan Kedungwaru.

"Rumah Tua atau RT". Demikian masyarakat menyebut warung yang terletak sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Tulungagung ini.

Sesuai dengan namanya, bangunan rumah yang dijadikan warung tempat berjualan kopi ini memang terlihat tua, mirip dengan balai kuno pada zaman kerajaan.

Berbeda dengan warung kopi pada umumnya, warung dengan menyajikan pramusaji cantik ini terletak di tengah perkampungan penduduk. Untuk menuju ke warung itu, harus melalui gang sempit yang hanya bisa dilalui oleh sepeda motor.

Namun, meski tempatnya terletak di desa, para pengunjung warung ini justru jauh lebih ramai dari warung kopi yang ada di kota.

Dari sebanyak 30 bangku tempat duduk permanen yang terbuat dari beton, tak satupun ada yang kosong.

"Kalau jam-jam malam seperti ini semuanya sudah penuh, kecuali siang atau sore hari. Soalnya kalau siang orang-orang kan banyak bekerja," papar salah seorang pengunjuk warung asal Desa Kedungwaru, Antok Sugendon.

Dari sisi rasa dan aroma kopi yang disajikan, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan warung-warung kopi yang ada di Tulungagung. Namun, keberadaan pramusaji cantik dengan dandangan yang menarik perhatian pengunjung itulah yang membuat warung RT digemari pengunjung.

Harganya juga nisbi mahal, yakni Rp4.500 per gelas, lebih mahal dari kopi di warung-warung biasanya yang hanya Rp1.500 per gelas.

"Orang yang datang ke sini kan tidak butuh untuk menikmati kopinya, tapi kan untuk menikmati suasana," tukas pengunjung lain di warung itu, Agung.

Setiap pengunjung yang datang, memang terlihat dilayani secara spesial oleh para pramusaji yang ada di warung itu.

Sesekali para pramusaji cantik ini duduk di antara para pengunjung warung dan meminta pangku, sehingga warung RT ini juga disebut sebagai "Warung Pangku".

Terlepas adanya sisi lain dalam bisnis penjualan kopi ini, namun, masyarakat Tulungagung sendiri mengganggap pola pemasaran dengan penyajian pramusaji cantik ini adalah sebuah pilihan.

Para penjual kopi lain di Kota Marmer ini mengaku tidak merasa tersaingi, karena keberadaan warung semacam itu hanya khusus di daerah tertentu saja.

"Kalau memang tujuannya ingin menikmati kopi, saya kira akan datang ke warung kopi yang sesuai dengan selera mereka," kata penjulan kopi lain di Desa Kedungwaru, Poerwadi.

(sumber: http://www.antarajatim.com/lihat/berita/87178/geliat-bisnis-warung-kopi-di-tulungagung)

Popular posts from this blog

Yang Tersisa dari Hukum Pancung TKI Zaini

AbdAziz.Info - "Semoga apa yang menimpa saya, tidak terjadi pada anak-anak Indonesia lainnya. Saya berdoa, semoga kedepannya ada kehidupan yang lebih baik pada saya. ...terima kasih Pak Presiden,....terima kasih Pemerintah Indonesia. Bangkalan, 20 Maret 2018. ... Yang sangat berduka... Mustofa Kurniawan".

Kalimat ini ungkapan hati Mustofa Kurniawan (18), anak dari Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Mochammad Zaini Misrin (53) asal Desa Kebun, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur yang dihukum pancung di Arab Saudi pada 18 Maret 2018 sekitar pukul 11.00 waktu setempat.

Sejak mendengar kabar bahwa ayahnya Zaini Misrin telah dieksekusi mati oleh pemerintah Arab Saudi atas tuduhan melakukan pembunuhan terhadap majikannya di Arab Saudi, Mustofa mengaku sangat terpukul. Keinginan untuk berkumpul kembali dengan ayahnya, hanya tinggal harapan, hingga akhirnya ia berinisiatif untuk mengirim surat kepada Presiden RI agar anak-anak TKI lainnya tidak mengalami hal ser…

Menekan Gizi Buruk-Katai dengan Program Terintegratif

AbdAziz.Info - Bayi di bawah umur lima tahun (balita) bernama Agus (3,5) yang menderita gizi buruk dari Desa Dupok, Kecamatan Kokop, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, belum lama ini, akhirnya meninggal dunia akibat kekurangan asupan gizi.

Tepat hari Selasa, 27 Februari 2017, Agus mengembuskan nafas terakhir di ICU lantai 2 di Rumah sakit Syarifah Ambami Rato Ebuh, Bangkalan. Ia meninggal dunia, setelah sempat dirawat selama dua hari di rumah sakit umum daerah milik Pemkab Bangkalan tersebut.

Hasil analisis dokter menyebutkan, penyakit yang diderita balita Agus, karena yang bersangkutan kekurangan asupan gizi alias menderita gizi buruk. Bayangkan, anak berumur 3,5 tahun tersebut hanya memiliki berat badan 9 kilogram. Padahal dengan umur 3,5 tahun seperti itu, seharusnya berat badan ideal sang balita antara 12,5 hingga 15,30 kilogram.

Kasus gizi buruk yang menimpa anak dari pasangan Naimah dan Ahmad ini merupakan satu dari ribuan anak yang menderita kasus gizi buruk di wilayah itu.

Berda…

Menuju Pilkada Pamekasan Damai Tanpa Hoax

AbdAziz.Info - Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) telah menetapkan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) bupati dan wakil bupati, serta gubernur dan wakil gubernur pada 27 Juni 2018.
Pesta demokrasi lima tahunan untuk memilih bupati dan wakil bupati, serta gubernur dan wakil gubernur itu serentak akan digelar 171 kabupaten/kota di 17 provinsi di Indonesia dengan perincian, sebanyak 115 kabupaten, dan 39 kota.
Di Jawa Timur, ada 19 pilkada serentak di 18 kabupaten dan kota serta Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018. Tiga di antaranya berada di Pulau Madura, yakni di Kabupaten Pamekasan, Sampang dan Kabupaten Bangkalan.
Masing-masing institusi penyelenggara pemilu di Pulau Madura, termasuk di Kabupaten Pamekasan, telah melakukan berbagai persiapan sejak awal 2018, agar pelaksaan pilkada bisa berlangsung aman, dan damai, serta tanpa adanya gangguan yang berarti.
Demikian halnya dengan instansi terkait, seperti aparat kepolisian dan TNI dari Kodim 0826 Pamekasan. Polr…

Guruku Sayang, Guruku Malang

Oleh Abd Aziz
Malam itu, 1 Februari 2018, tiba-tiba menyebar kabar secara berantai di berbagai media sosial, seperti facebook, twitter, dan whatshapp yang mengabarkan bahwa seorang guru seni rupa di SMA Negeri 1 Torjun, Kabupaten Sampang, Madura, meninggal dunia.

Ahmadi Budi Cahyanto, demikian nama guru yang meninggal dunia di Rumah Sakit Dr Soetomo di Surabaya, asal Dusun Paleyang, Desa Tanggumong, Kecamatan Kota Sampang. Sang guru meninggal dunia, setelah dianiaya oleh siswanya sendiri berinisial HI saat yang bersangkutan menyampaikan materi pelajaran seni menggambar di depan ruang kelas XII.

Kabar tidak baik ini, menyebar sangat cepat. Maklum, tindakan melawan guru, apalagi memukul, bagi warga Madura, merupakan tindakan sangat tercela, sangat buruk, dan bahkan ada sebagian masyarakat yang menyebut "tidak beradap".

Apalagi posisi guru dalam adat tradisi dan budaya orang Madura, menempati urutan kedua, setelah kedua orang, yakni bapak/ibu. "Bhapa', bhabu' guru,…