Skip to main content

RSBI, Antara Peningkatan Mutu dan Kastanisasi

Oleh Abd Aziz

Pada mulanya pengembangan Rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI) dan Sekolah Berwawasan Internasional (SBI) adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan dan peningkatan sumber daya manusia (SDM) Indonesia.

"Kami menginginkan SDM generasi bangsa ini bisa bersaing dengan SDM bangsa-bangsa lain di dunia yang telah maju. Makanya pemerintah membentuk RSBI, itu merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas SDM melalui pendidikan," kata Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh.


Pernyataan Mendiknas ini disampaikan saat mengisi seminar bertema "Pembangunan dan Pendidikan di Madura" di Islamic Centre Pamekasan yang digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa se Madura, belum lama ini.

Menurut Mendinas ketika itu, sebenarnya kualitas pendidikan di Indonesia telah menunjukkan adanya peningkatan. Ini terbukti dengan adanya siswa Indonesia yang sudah mampu bersaing dengan siswa lain di luar negeri, dalam berbagai bidang keilmuan.


Dalam olimpiade fisika misalnya, siswa Indonesia, sudah pernah meraih juara di tingkat internasional, bahkan salah satunya merupakan siswa Pamekasan, yakni siswa SMA Negeri I, Andy Octavian Latief.

"Keberadaan RSBI ini sebenarnya merupakan tempat khusus membina para siswa yang memiliki kemampuan secara akademik, namun tarafnya internasional," papar Mohammad Nuh ketika itu.

Akan tetapi, kebijakan pemerintah dalam berupaya meningkatkan kualitas pendidikan melalui penjaringan siswa yang memiliki kemampuan akademik ini dinilai sebagai kalangan justru akan menimbulkan kelas sosial baru. Baik dari kalangan praktisi pendidikan sendiri, maupun dari sebagian anggota dewan.

Salah satunya seperti yang disampaikan Ketua Fraksi Partai Bulan Bintang (FPBB) Pamekasan, Suli Faris. "Sebab tidak semua masyarakat bisa menjangkau masuk sekolah ini, kendatipun ia memiliki kemampuan intelektual yang memadai."

Selain persoalan biaya yang mahal dibanding SMA reguler, di satu sisi keberadaan RSBI nantinya akan menciptakan kelompok elite intelektual dalam dunia pendidikan dan ini akan sangat berpengaruh terhadap kondisi psikologis anak didik.

"Sebab pada akhirnya akan timbul anggapan bahwa hanya yang bersekolah di RSBI ini yang pintar, sedang yang sekolah di lembaga pendidikan selain SBI bukan siswa yang pintar," ucap Suli Faris.

Di satu sisi, kata Suli, tidak semua siswa yang memiliki kemampuan akademik memadai akan bisa bersekolah di SBI. Apalagi pembiayaan di sekolah tersebut murni dari para orangtua siswa.

Di Pamekasan saja, siswa yang bisa masuk ke SBI umumnya hanya dari kalangan kelas ekonomi menengah ke atas, dan anak-anak para pejabat di wilayah tersebut.

Anak para petani miskin berprestasi sulit untuk masuk SBI, meski dari segi pembiayaan, SBI SMA di Pamekasan masih jauh lebih murah dibanding SBI di sejumlah kota besar di Jawa Timur, seperti Malang dan Surabaya.

Hal senada juga disampaikan ketua LSM Institute For Education And Culture Studies (Indecs) Pamekasan Halifaturrahman. Menurut "Mamang" sapaan akrab Halifaturrahman ini, keberadaan RSBI yang nantinya akan menjadi sekolah berstandar internasional (SBI) itu, secara intelektual memang akan menimbulkan kelas sosial baru, yakni kelompok elite intelektual.

Sebab, sambung Mamang yang bisa masuk ke RSBI hanyalah mereka yang memiliki kemampuan akademik, bukan semua siswa lulusan SMP dan MTs.

"Namun kalau dibidang ekonomi, saya kira pemerintah perlu memberikan kebijakan khusus. Artinya tetap ada fasilitas bagi mereka yang tidak tidak mampu, namun secara intelektual mereka mampu," kata Halifaturrahman.

Mamang yang juga dosen Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan Universitas Madura (Unira) Pamekasan ini lebih lanjut menyatakan, jika pemerintah tidak menerapkan kebijakan khusus bagi siswa berprestasi tak mampu maka RSBI nantinya benar-benar bisa menciptakan kelas sosial baru dalam dunia pendidikan. Yakni hanya bagi siswa mampu dan berprestasi.

Minat
Keberadaan RSBI di Pamekasan sebagai lembaga pendidikan yang khusus menampung siswa yang memiliki kemampuan akademik yang memadai, ternyata menjadi perhatian khusus para orangtua siswa di wilayah ini.

Seperti di RSBI SMA Negeri Pamekasan. Pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) 2010-2011 ini sebanyak 246 siswa terpaksa gagal masuk RSBI SMA Negeri I Pamekasan. Sebab siswa yang diterima hanya sebanyak 256 siswa, sesuai dengan kapasitas ruang kelas yang ada di lembaga itu.

"Ke-256 siswa ini dinyatakan gagal masuk RSBI setelah kami uji mereka selama delapan hari, mulai tanggal 7 hingga 14 April kemarin," kata Kepala RSBI SMA Negeri I Pamekasan, Basyair.

Ia menjelaskan, jumlah pendaftar yang hendak masuk RSBI Pamekasan awalnya 480 orang, sedangkan kuota yang diterima hanya 224 orang siswa, sehingga sebanyak 256 calon siswa sisanya terpaksa tertolak.

Dari total 224 siswa yang dinyatakan lolos dalam pelaksanaan tes masuk RSBI SMA Negeri I Pamekasan tersebut, sebanyak 32 orang siswa di antaranya melalui jalur khusus, yakni melalui lomba "Phytagoras" ("Physics, Mathematics, Biology, Informatics") dan Olimpiade Sains Nasional (OSN).

"Jadi peraih nilai tertinggi di lomba "Phytagoras" dan OSN itu mendapatkan jatah khusus masuk di RSBI SMA I Pamekasan," tutur Basyair menjelaskan.

Sementara itu, pengumuman kelulusan PPDB di RSBI SMA Negeri I Pamekasan itu sempat diprotes oleh sejumlah orangtua siswa yang merasa tidak puas dengan hasil pengumuman yang disampaikan panitia.

Namun persoalan itu teratasi, setelah pihak sekolah menunjukkan nilai hasil tes yang diperoleh masing-masing peserta tes.

Basyair juga membantah ada praktik suap dalam penerimaan siswa baru RSBI SMA Negeri I Pamekasan tersebut, sebagaimana tudingan sebagian orangtua.

"Yang membuat para siswa itu lulus adalah dirinya sendiri, bukan karena faktor lain, karena pelaksanaan tes sudah transparan dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku," ujar Basyair menegaskan.

Jika memang ada orangtua siswa yang membayar sejumlah uang kepada oknum guru ataupun panitia maka ia meminta supaya uangnya dikembalikan.

"Mana mungkin kami menukar nama baik RSBI dengan hanya sejumlah uang. Kalau mereka yang masuk itu karena uang, jelas kredibilitas lembaga akan turun dan akan ketahuan di belakang hari nantinya," tegas Basyair.

Oleh sebab itu, Basyair memastikan bahwa calon siswa yang dinyatakan lulus dan diterima di RSBI SMA Negeri Pamekasan, memang merupakan siswa yang memiliki kemampuan secara akademik.

Dari 224 calon siswa yang dinyatakan lolos dan diterima sebagai siswa RSBI Pamekasan tahun pelajaran 2010-2011 itu, yang paling banyak ialah siswa lulusan SMP Negeri I dan SMP Negeri 2 Pamekasan. Sedang dari lembaga swasta ialah SMP Muhammadiyah dan SMP Al-Quds Pamekasan.

Prestasi
Antusiasme para orangtua siswa untuk memasukkan anaknya ke RSBI di Pamekasan ini, cukup beralasan. Selain dari sisi kelas sosial meningkat, karena belajar di lembaga pendidikan bertaraf internasional, secara akademik, siswa RSBI memang lebih mampu.

Dalam dua tahun pelaksanaan ujian nasional (UN), tak satupun siswa RSBI di Pamekasan tak lulus UN, termasuk pada pelaksanaan UN tahun ini, dimana banyak siswa SMA/SMK dan MA lainnya yang tidak lulus.

"Dari sebanyak 279 siswa rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI) di SMA Negeri I ini tak satu pun yang tidak lulus ujian nasional (UN), semuanya lulus dengan nilai yang memuaskan," kata Kepala SMA Negeri I Pamekasan Basyair.

Ia menjelaskan, ada enam orang siswa di sekolah itu yang tercatat sebagai siswa dengan nilai bagus, yakni tiga orang siswa jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan tiga siswa lainnya jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Keenam orang siswa itu masing-masing, Rini Purnamajulaika dengan nilai rata-rata 56,30. Fitriana Astuti dengan nilai 56,20 serta Isnan Syaiful dengan nilai sama, yakni 56,20."Ketiga siswa ini semuanya jurusan IPA," papar Basyair.

Sedangkan untuk jurusan IPS, masing-masing, Ruli Bestari dengan nilai rata-rata 51,15, selanjutnya Ricky Nursubarki dengan nilai 50,95 pada urutan kedua, dan Sulhan Adi Rahman dengan nilai 50,65 di urutan ketiga.

"Persentase kelulusan di RSBI SMA Negeri I Pamekasan ini sama dengan persentase kelulusan UN pada 2009," kata Basyair yang juga Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Negeri di Pamekasan.

Dari sisi kemampuan keilmuan di luas sekolah, RSBI SMA Negeri I Pamekasan, memang sudah dikenal mumpuni, meski ada sebagian kalangan yang menilai, itu karena kemampuan pribadi siswa, bukan kemampuan pengelolaan lembaga.

Sebut saja, peraih juara fisika tingkat Asia yang kini menjadi duta Indonesia untuk lomba fisika tingkat internasional pada "International Physic Olimpiade (IphO) di Kroasia, Juli 2010, Mohammad Shohebul Maromi.

Pada tahun 2006 lalu, siswa RSBI SMA Negeri I bernama Andy Octavian Latief juga menjadi duta Indonesia untuk lomba fisika bahkan yang bersangkutan berhasil meraih juara.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Pamekasan Achmad Hidayat, selain karena para siswa memang memiliki kemampuan personel, sistem kegiatan belajat mengajar (KBM) di RSBI jauh berbeda dengan sekolah reguler lainnya.

"Perbedaannya terletak pada peningkatan kemampuan materi pelajaran. Siswa yang lemah dalam satu pelajaran tertentu akan digembleng secara khusus melalui kursus-kursus dan pelajaran tambahan," terang Achmad Hidayat.

Sebenarnya materi pelajaran RSBI ini sama dengan sekolah SMA reguler lainnya. Hanya saja menggunakan dua bahasa, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Dayat juga membantah jika keberadaan RSBI justru akan menciptakan kelas sosial baru nantinya dalam bidang ekonomi. Sebab, kata Dayat, RSBI bukan hanya untuk orang yang mampu saja, namun menampung semua pelajar dari berbagai kelas ekonomi.

"Kalau RSBI ini dibilang hanya dari kelas ekonomi menegah keatas itu salah. Kami kan menyediakan alokasi khusus bagi mereka yang tidak mampu namun secara akademik berprestasi," kata Achmad Hidayat.

Sejumlah kepala sekolah RSBI di Pamekasan, seperti RSBI SDN Lawangan Daja, RSBI SMP Negeri I dan SMA Negeri I Pamekasan menjelaskan, alokasi untuk siswa tidak mampu dan berprestasi ialah 20 persen.

"Ini sesuai dengan kesepakatan bersama antara pihak sekolah, komite dan Dinas Pendidikan," ucap Kepala RSBI SMA Negeri I Pamekasan, Basyair.

Popular posts from this blog

Yang Tersisa dari Hukum Pancung TKI Zaini

AbdAziz.Info - "Semoga apa yang menimpa saya, tidak terjadi pada anak-anak Indonesia lainnya. Saya berdoa, semoga kedepannya ada kehidupan yang lebih baik pada saya. ...terima kasih Pak Presiden,....terima kasih Pemerintah Indonesia. Bangkalan, 20 Maret 2018. ... Yang sangat berduka... Mustofa Kurniawan".

Kalimat ini ungkapan hati Mustofa Kurniawan (18), anak dari Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Mochammad Zaini Misrin (53) asal Desa Kebun, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur yang dihukum pancung di Arab Saudi pada 18 Maret 2018 sekitar pukul 11.00 waktu setempat.

Sejak mendengar kabar bahwa ayahnya Zaini Misrin telah dieksekusi mati oleh pemerintah Arab Saudi atas tuduhan melakukan pembunuhan terhadap majikannya di Arab Saudi, Mustofa mengaku sangat terpukul. Keinginan untuk berkumpul kembali dengan ayahnya, hanya tinggal harapan, hingga akhirnya ia berinisiatif untuk mengirim surat kepada Presiden RI agar anak-anak TKI lainnya tidak mengalami hal ser…

Menekan Gizi Buruk-Katai dengan Program Terintegratif

AbdAziz.Info - Bayi di bawah umur lima tahun (balita) bernama Agus (3,5) yang menderita gizi buruk dari Desa Dupok, Kecamatan Kokop, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, belum lama ini, akhirnya meninggal dunia akibat kekurangan asupan gizi.

Tepat hari Selasa, 27 Februari 2017, Agus mengembuskan nafas terakhir di ICU lantai 2 di Rumah sakit Syarifah Ambami Rato Ebuh, Bangkalan. Ia meninggal dunia, setelah sempat dirawat selama dua hari di rumah sakit umum daerah milik Pemkab Bangkalan tersebut.

Hasil analisis dokter menyebutkan, penyakit yang diderita balita Agus, karena yang bersangkutan kekurangan asupan gizi alias menderita gizi buruk. Bayangkan, anak berumur 3,5 tahun tersebut hanya memiliki berat badan 9 kilogram. Padahal dengan umur 3,5 tahun seperti itu, seharusnya berat badan ideal sang balita antara 12,5 hingga 15,30 kilogram.

Kasus gizi buruk yang menimpa anak dari pasangan Naimah dan Ahmad ini merupakan satu dari ribuan anak yang menderita kasus gizi buruk di wilayah itu.

Berda…

Menuju Pilkada Pamekasan Damai Tanpa Hoax

AbdAziz.Info - Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) telah menetapkan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) bupati dan wakil bupati, serta gubernur dan wakil gubernur pada 27 Juni 2018.
Pesta demokrasi lima tahunan untuk memilih bupati dan wakil bupati, serta gubernur dan wakil gubernur itu serentak akan digelar 171 kabupaten/kota di 17 provinsi di Indonesia dengan perincian, sebanyak 115 kabupaten, dan 39 kota.
Di Jawa Timur, ada 19 pilkada serentak di 18 kabupaten dan kota serta Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018. Tiga di antaranya berada di Pulau Madura, yakni di Kabupaten Pamekasan, Sampang dan Kabupaten Bangkalan.
Masing-masing institusi penyelenggara pemilu di Pulau Madura, termasuk di Kabupaten Pamekasan, telah melakukan berbagai persiapan sejak awal 2018, agar pelaksaan pilkada bisa berlangsung aman, dan damai, serta tanpa adanya gangguan yang berarti.
Demikian halnya dengan instansi terkait, seperti aparat kepolisian dan TNI dari Kodim 0826 Pamekasan. Polr…

Guruku Sayang, Guruku Malang

Oleh Abd Aziz
Malam itu, 1 Februari 2018, tiba-tiba menyebar kabar secara berantai di berbagai media sosial, seperti facebook, twitter, dan whatshapp yang mengabarkan bahwa seorang guru seni rupa di SMA Negeri 1 Torjun, Kabupaten Sampang, Madura, meninggal dunia.

Ahmadi Budi Cahyanto, demikian nama guru yang meninggal dunia di Rumah Sakit Dr Soetomo di Surabaya, asal Dusun Paleyang, Desa Tanggumong, Kecamatan Kota Sampang. Sang guru meninggal dunia, setelah dianiaya oleh siswanya sendiri berinisial HI saat yang bersangkutan menyampaikan materi pelajaran seni menggambar di depan ruang kelas XII.

Kabar tidak baik ini, menyebar sangat cepat. Maklum, tindakan melawan guru, apalagi memukul, bagi warga Madura, merupakan tindakan sangat tercela, sangat buruk, dan bahkan ada sebagian masyarakat yang menyebut "tidak beradap".

Apalagi posisi guru dalam adat tradisi dan budaya orang Madura, menempati urutan kedua, setelah kedua orang, yakni bapak/ibu. "Bhapa', bhabu' guru,…