Skip to main content

Kegigihan Sunarmi Memperjuangkan Pendidikan Anak-anaknya

Oleh: Abdul Aziz

Siang itu suasana di Desa Gagah, Kecamatan Kadur, Pamekasan, Madura cuaca sangat panas. Sinar mentari begitu terasa menyengat tubuh.

Di sebuah rumah sederhana berukuran 3 x 6 yang terbuat dari gedek (atap dari anyaman bambu-red) Dusun Daporah di desa itu, terlihat seorang perempuan paruh baya sedang duduk bersandar pada bale-bale di teras rumahnya, menikmati semilir angin pengunungan yang bertiup sepoi-sepoi.

Sesekali perempuan ini mengipas-ngipas tubuhnya dengan bekas koran lusuh, terbitan tahun 1990-an. Sambil sesekali, menikmati wedang jahe yang masih hangat dan baru saja dibuatnya.
Sunarmi, demikian nama perempuan berumur 51 tahun ini. Ia baru saja pulang dari pekerjaannya sebagai buruh tani, milik tetangganya yang juga warga di kampung itu.

Di atas pintu rumah, terlihat sebuah foto seorang pemuda berusia sekitar 27 tahun dan seorang perempuan berusia sekitar 23 tahun.

"Dia ini Zaini anak saya yang pertama dan saudaranya Mamdudatul Khairah," kata Sunarmi menuturkan.

Kini, keduanya telah berumah tangga, setelah menyelesaikan pendidikan. Zaini sudah menyelesaikan pendidikan strata I (S1) di salah satu perguruan tinggi swasta di Pamekasan dan kini sudah menjadi guru, sedangkan Mamdudatul Khairah lulus SMA.

Upaya menyekolahnya anak-anaknya yang dilakukan Sunarmi rasanya patut menjadi teladan.

Kondisi ekonomi yang serba terbatas dan hanya sebagai buruh tani tak menyurutkan langkah perempuan ini untuk mengantarkan mereka mengenyam pendidikan yang lebih layak.

"Awalnya tidak pernah terlintas dalam benak saya bisa menyekolah hingga perguruan tinggi," ucap Sunarmi, sambil sesekali memperbaiki posisi duduk di lincak beralaskan tikar daun lontar di teras rumahnya.

Rasa pesimisme Sunarmi timbul, setelah suaminya Abdurrahman meninggal dunia. Ketika itu, anak pertamanya Zaini masih duduk di bangku sekolah dasar negeri (SDN) kelas VI dan anak keduanya, Mamdudatul Khairah masih duduk di bangku kelas I.


Memprihatinkan
Kepergian suaminya Abdurrahman, membuat kondisi ekonomi keluarga Sunarmi kian memprihatinkan. Ia harus berusaha sendiri untuk menghidupi keluarga dan kebutuhan anak-anaknya yang masih duduk di bangku sekolah.

Beban berat untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga Sunarmi sangat dirasakan, saat dirinya sakit dan tidak bisa lagi bisa bekerja. Terkadang iapun harus berhutang kepada para tetangga dan kerabat dekatnya hanya untuk sekedar uang saku anak-anaknya yang masih sekolah.

"Dulu uang sakunya Rp100 untuk Zaini dan Rp50 untuk adiknya mam. Tapi kalau saya sedang sakit, uang sebesar itu terasa sangat membebani," kenang Sunarni.

Bagi Sunarmi, uang saku sebesar itu tidaklah sedikit, karena upah buruh tani yang ia terima hanya Rp750 setengah hari atau Rp1.500 sehari kala itu.

"Yang ada dalam pikiran saya waktu itu, anak saya cepat lulus SD dan cepat bekerja membantu saya dan tidak terlintas sama sekali bisa sekolah lanjutan," tuturnya.

Sekolah lanjutan, merupakan sebutan yang dikenal masyarakat di desa ini, setelah SD, seperti SMP, atau MTs.

Desa Gagah, terletak sekitar 22 kilometer dari Kota Pamekasan, merupakan salah satu dari 10 desa yang ada di wilayah Kecamatan Kadur.

Tidak banyak masyarakat di desa ini yang melanjutkan pendidikan setelah lulus SD apalagi anak-anak perempuan. Anggapan bahwa kaum perempuan hanya di dapur dan di sumur, masih melekat dan menjadi stigma sebagian besar masyarakat di desa ini.

Dari sekitar 800 lebih penduduk desa itu pada tahun 1999 lalu, hanya satu diantaranya yang tercatat lulusan sarjana. Putus sekolah dan lulusan SD tergolong paling banyak, meskipun ada juga yang lulusan Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah atau setingkat SMA, namun jumlahnya sangat sedikit.

"Begitu bapaknya Zaini dan Mam meninggal, saya sempat putus asa. Saya tak yakin bisa melanjutan sekolah mereka dan mondok di pesantren," ucap Sunarmi.

Namun di tengah rasa pesimisme itu, Sunarmi kian meningkatkan usahanya mengumpulkan uang, menabung untuk pendidikan kedua anaknya.

Cita-cita Zaini yang sering ia sampaikan kepada dirinya seusai saat sedang santai atau sedang makan malam agar bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, seolah menjadi motivasi tersendiri bagi Sunarni untuk bisa memenuhi keinginan buah hatinya.

Selain menjadi buruh tani, sesekali ia bekerja menjadi pemecah batu, mengisi waktu disaat tidak ada pesanan kerja membersihkan rumput pada tanaman jagung di ladang.

"Setiap kali Zai menyampaikan keinginannya ingin sekolah, saya hanya bilang, ayo kita berdoa yang banyak, agar cita-citamu terkabul oleh Yang Maha Kuasa," tuturnya.

Bintang terang Sunarmi terasa kian bersinar, setelah ada seseorang duda bernama Hasan yang masih tetangganya meminang janda dua anaknya pada tahun 1994 lalu, saat anak pertamanya Zaini hendak lulus dari bangku sekolah di SDN Kertagena Laok III, Pamekasan.

Ia tidak lagi berjuang sendiri memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya dan biaya pendidikan anak-anaknya. Bersama Hasan, Sunarmi tidak hanya bekerja sebagai buruh tani, tapi juga bisa menanam tembakau dan memelihari sapi dengan sistem bagi hasil.

"Kalau tidak seperti itu mana mungkin kami bisa mencukupi kebutuhan pendidikan Zaini dan Mam," kata Hasan menimpali.


Masuk Yayasan
Keinginan Sunarmi untuk melanjutkan pendidikan anak-anaknya ke jenjang yang lebih mendapatkan angin segar, saat Yayasan Pendidikan Islam Nasyrul Ulum, merekrut Zaini menjadi santri di lembaga itu.

Yayasan yang diasuh KH Hamid Mannan Munif di Dusun Bagandan, Kelurahan Jungcangcang, Kecamatan Kota, Pamekasan ini, merupakan yayasan yang khusus membina pendidikan anak yatim, fakir miskin dan kaum dugaan.

Dengan berbekal surat keterangan anak yatim dari Kepala Desa Gagah, Jauhari Effendi ketika itu, pada tahun 1995 setelah lulus SD Kertagena Laok III Zaini diterima sebagai santri binaan khusus dan mendapatkan jatah beasiswa hingga lulus SMA.

Adiknya, Mamdudatul Khairah tiga tahun kemudian juga diterima di yayasan itu dengan jatah beasiswa yang sama, termasuk biaya hidup sehari-hari.

"Tapi tidak semua kebutuhan pendidikan ditanggung yayasan. Kebutuhan pendidikan lainnya seperti membeli buku-buku dan kitab, harus biaya sendiri dan jumlahnya tidak sedikit bagi kami," tutur Sunarmi.


Terusir
Angin segar yang sempat dirasakan Sunarmi dalam berupaya memperjuangkan pendidikan anak-anaknya rupanya tidak berlangsung mulus, ketika pada suatu ketika mereka harus terusir dari tempat tinggalnya, karena masalah sengketa tanah keluarga yang ditempatinya.

Guncangan masalah keluarga yang terjadi kala itu tidak hanya dirasakan Sunarmi dan suaminya Hasan saja, akan tetapi, sempat mengganggu konsentrasi kedua anaknya Zaini dan Mamdudatul Khairah.

"Kabar tentang persoalan itu sempat membuatkan stres, karena aku sendiri menyadari kondisi yang sebenarnya orang tua kami," kata Zaini seusai mengajar di MTs Sumber Anyar, Larangan Tokol, Pamekasan.

Zaini sendiri tak bisa berbuat banyak, karena posisinya ketika itu masih sebagai santri dan pelajar. Ia hanya bisa pasrah sambil terus memohon kepada Sang Ilahi agar persoalan yang menimpa orang tua bisa segera teratasi.

"Allah rupanya tidak tutup mata, hingga akhirnya ada tetangga yang mau memberikan sepetak tanah miliknya untuk ditempati keluarga kami," kenang Zaini yang kini menjadi guru Bahasa Inggris itu.

Persoalan yang sempat menimpa keluarganya memang sempat membuatnya pesimis untuk bisa melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi.

Namun bagi Zaini, mengenyam pendidikan tinggi bukan hanya milik orang kaya dan mampu, karena tidak sedikit diantara orang-orang sukses juga berasal dari keluarga yang tidak mampu, bahkan anak desa sekalipun.

Membaca kisah orang-orang sukses berprestasi melalui perjuangan panjang yang melelahnya menurutnya memberikan spirit tersendiri baginya untuk terus berusaha.

"Dimana ada kemauan di situ ada jalan, seperti yang sering diucapkan ustad di kampung dulu, itu yang menjadi motivasi saya untuk terus berusaha," katanya.

Sejak masuk kuliah setelah lulus SMA Wahid Hasyim 2001 lalu, Zaini memang nyaris tidak pernah meminta bantuan kiriman dari orang tuanya lagi di kampung untuk kebutuhan biaya pendidikan.

Semua kebutuhan kampus mampu ia cukupi dengan menjadi guru private mengaji anak-anak pejabat di Pamekasan yang juga berkat arahan pengurus yayasan tempat ia dibesarkan sejak lulus SD.


Inspirasi
Keuletan dan kegigihan Sunarmi memperjuangkan nasib pendidikan anak-anaknya Zaini dan Mamdudatul Khairah, menjadi inspirasi bagi para orang tua di desa itu.

"Apa yang telah dilakukan seolah-olah menjadi pemicu bagi para orang tua di sini untuk menyekolahkan anaknya agar tidak hanya lulus SD saja, tapi sebisa mungkin hingga SMA bahkan perguruan tinggi," kata tokoh pemuda di desa itu, Misnadi.

Upaya serius, banting tulang yang dilakukan Sunarmi seorang perempuan yang hidup dengan serba kekurangan hingga di tingkat perguruan tinggi, seolah membuka mata kepada semua orang di kampungnya, bahwa keterbatasan ekonomi bukan satu-satunya halangan untuk mengenyam pendidikan yang lebih baik.

Perempuan itu rela mencurahkan seluruh perhatian untuk masa depan pendidikan anak-anaknya, kendatipun dia sendiri seorang buta huruf yang tidak bisa baca-tulis.

"Orang yang lebih dari sisi ekonomi di kampung ini kan lebih banyak, akan tetapi mereka selalu beralasan takut tidak bisa mencukupi biaya," terang Misnadi.

Sekarang, sambung dia, hampir tidak satupun keluarga yang membiarkan anak-anaknya hanya lulus pendidikan di tingkat sekolah dasar (SD).

Menurut pemerhati pendidikan dari Institute for Education and Culture Studies (Indecs) Pamekasan Azis Maulana, faktor ekonomi memang menjadi salah satu faktor penentu bagi seseorang dalam mengenyam pendidikan yang lebih layak.

Akan tetapi, semangat dan keinginan terkadang lebih kuat dibanding faktor ekonomi, sebab tidak sedikit orang-orang yang sukses dalam dunia pendidikan bukan karena mereka kaya, akan tetapi karena dorongan semangat yang kuat.

"Karena semangat yang kuat itu akan mengubah menjadi energi positif untuk terus berupaya mencari jalan keluar guna mensukseskan apa yang dicita-citakan," kata Azis Maulana.

(sumber: http://www.antarajatim.com/lihat/berita/83156/kegigihan-sunarmi-memperjuangkan-pendidikan-anak-anaknya)

Popular posts from this blog

SMA I Pamekasan Raih Tiga Juara Dunia

Oleh: Abd Aziz

Pamekasan, 22/12 (ANTARA) - Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri I Pamekasan, Madura, Jawa Timur, mampu mengharumkan nama bangsa Indonesia di tingkat dunia, dengan tiga juara yang telah diraih selama ini.

Juara pertama diraih oleh siswa bernama Andy Octavian Latief dalam ajang Olimpiade Fisika Internasional ke-37 di Singapura 2006. Juara kedua oleh Mohammad Shohebul Maromi dalam lomba fisika internasionaldi Kroasia yang digelar pada 15 hingga 17 Juli 2010


Terakhir oleh Alyssa Diva Mustika dalam ajang "The Fourth International Young Mathematics" di India yang berlangsung 2-5 Desember 2010.

Fenomina Asmari Pada Proses Pilkada Pamekasan

Pesta demokrasi di kabupaten Pamekasan sebentar lagi akan digelar. Hiruk pikuk beragam kegiatan sebagai persiapan untuk memilih pemimpin setiap lima tahun sekali itu, mulai terlihat dengan banyaknya gambar, poster dan spanduk yang dipajang di sejumlah sudut kota di kota ini.

Baliho berukuran besar, terpajang di hampir semua tempat strategis. Pinggir jalan raya yang menjadi akses jalur lalu lintas ramai pengendara, seperti di Jalan Raya Panglegur, Jalan Raya Pamekasan-Sumenep, hingga jalan masuk kota di Jalan Raya Tlanakan sejak tiga bulan terakhir ini nyaris tidak sepi dari pemajangan gambar.

Memang tidak ada tulisan yang jelas bahwa gambar-gambar yang terpajang itu menunjukkan bahwa yang bersangkutan akan maju sebagai bakal calon Bupati periode 2013-2018.

Cita-Cita Ainul Yaqin Terkubur di Kampus Pelayaran

Bangkalan - Pihak keluarga siswa pada Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) Surabaya asal Bangkalan, Madura, yang meninggal dunia dengan kondisi tidak wajar di kampusnya, Minggu (30/9) menuntut keadilan.
 "Kami akan menuntut keadilan kepada BP2IP karena anak kami mati dengan kondisi tidak wajar," kata orang tua korban, Achmad Djailani, Senin.
 Anaknya, Ainul Yaqin (19) pada Minggu (30/9) malam dipulangkan oleh BPIP Surabaya dalam keadaan tewas dengan kondisi tubuh lebam, rahangnya patah, serta mulutnya mengeluarkan darah.

Kesenian Tradisional Macapat Terancam Punah

Oleh Abd Aziz

"Ingsun amamiti anebut asma Yang Sukmo. Rahman mura ing dunya kabhe, Rahim ase ing akherat. Ing sakihi kang amaca 'Laila ha Illallah Muhammadun Rasulullah".

Kidung berbahasa Jawa yang dibacakan pujangga Suwamah, warga Desa Larangan Tokol, Kecamatan Larangan, ini mengawali tembang dalam sebuah hajatan yang digelar warga setempat di desa itu.

Kakek yang sudah berusia 70 tahun ini terlihat sangat serius membacakan kata demi kata dalam sebuah kitab bertuliskan huruf Arab berbahasa Jawa halus ini.